Rabu, 26 Agustus 2009

Hakikat Kemerdekaan

Merdeka yang Sesungguhnya
Untuk anggota Buletin Remaja GAULISLAM
gaulislam edisi 095/tahun ke-2 (26 Sya’ban 1430 H/17 Agustus 2009)

Jadwal kerja gue yang padet akhir-akhir ini bikin gue sulit ngelakuin kegiatan-kegiatan lain. Apalagi kemaren-kemaren gue sempet terserang pegal-linu akhirnya coba-coba mampir dulu deh ke toko jamu beli jamu pegel-linu. Tapi deadline tanggal 16 ini harus gue selesein secepatnya supaya nggak ada tanggungan lagi. Untungnya tadi ada temen yang bersedia meminjamkan laptopnya selama 1 hari setidaknya gue tertolong lah buat nyelesein tugas ini. Kan enak tuh malem hari ngetik di beranda kontrakan sambil nungguin air mendidih buat nyeduh kopi yang selalu siap menemani. Oh ya gue baru inget bahwa Senin ini adalah tanggal 17 Agustus katanya sih peringatan hari kemerdekaan.


BTW, elo tahu nggak udah puluhan tahun lho klaim Indonesia ini sudah merdeka sampe temen gue pun yah sebut saja begeng (bukan nama sebenarnya), waktu gue tanya Indonesia merdeka udah berapa tahun eh dia menjawab “lupa”. Nah lho begeng aja udah lupa berarti udah lama dong atau dia belum ngerasain kemerdekaan yang digembar-gemborkan itu. Hehehe…

Arti kemerdekaan

Merdeka menurut bahasa adalah bebas. So buat elo yang belum bebas alias masih ngerasa dijajah berarti elo belum merdeka sepenuhnya ok? Setuju nggak? Nah elo tahu nggak sumber penjajahan itu dari mana mengapa seorang manusia bisa atau tega menjajah manusia yang lain. Biang keladi semua itu adalah hawa nafsu manusia yang tak terkontrol dan tak pernah habis. Apabila semua manusia bisa mengontrol hawa nafsunya mungkin penjajahan nggak akan ada di dunia ini.

Terus, tentunya harus ada peraturan juga dong untuk mengontrol hawa nafsu manusia yang liar Oya, peraturan yang gue maksud di sini bukanlah peraturan yang dibuat oleh manusia karena peraturan yang dibuat manusia itu nggak menjamin suci dari hawa nafsu dan penjajahan. Contohnya demokrasi yang ada sekarang ini adalah satu contoh penjajahan juga tuh karena dalam demokrasi itu jumlah yang banyak menjajah jumlah yang sedikit jadi kita nggak bisa berharap keadilan dan kemerdekaan dari sebuah demokrasi. Kalo kata Mang Jorge Luis Borges seorang sastrawan Argentina, demokrasi adalah sebuah penyalahgunaan statistik. Yup, ada benarnya juga kata si doi demokrasi itu nggak peduli mana yang benar mana yang salah semua diambil berdasarkan voting padahal dalam al-Quran sendiri dengan jelas tercantum.

Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). ( QS al-An’am [6]: 116)

Jadi apakah ini yang disebut merdeka? Nggak dong merdeka yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah nggak dijajah hawa nafsu. Gue nguping dari guru ngaji gue, bahwa Rasulullah saw. bersabda “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” Hmm.. gue seneng dapat info kayak gini.

Ah, nyeruput kopi dulu! Pletak!

Negara kita belum merdeka, Bung!

Negara yang merdeka adalah negara yang benar-benar berdikari mampu menangani segala persoalan dalam dan luar negeri dan rakyatnya merasa aman dan tenteram. Terus gue mau nanya neh ke elo semua Bro, tapi jawab yang jujur ya? Apakah elo semua ngerasa aman ketika negara lain turut campur dalam kepentingan negara ini mulai dari soal ketahanan negara, ekonomi, dan masalah-masalah lainnya?

Contohnya nih aset-aset negara yang penting seperti tambang emas dan minyak pun dikuasai oleh orang asing inilah yang membuat rakyat Indonesia masih banyak yang sengsara kalo menurut istilah yang diajarkan oleh guru gue waktu SD tuh seperti tikus yang mati di lumbung padi. Nah begitulah keadaan negara ini. Padahal kalo dalam Islam Rasulullah saw. bersabda, ”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Harga (menjual-belikannya) adalah haram” (HR Abu Dawud)

Jadi air (laut, sungai, danau, dll), padang rumput (hutan), dan api (bahan bakar minyak, batu bara, gas, listrik, dan sumber energi lainnya) merupakan milik bersama. Karenanya, termasuk dalam pemilikan umum dan ridak boleh dikuasai secara pribadi, atau bahasa kerennya tidak boleh “diprivatisasi” sampai tambang garam pun pernah diambil kembali lho oleh Rasulullah karena menyangkut kepentingan umat

Pokoknya sekarang ini nggak ada deh kepentingan yang berpihak pada rakyat semuanya dikapitalisasi bahkan sampe tenaga buruh pun dengan adanya outsourcing bisa dijadikan penghasilan atau pemerasan. Misalnya dengan adanya outsourcing otomatis para pemilik perusahaan bisa lepas tanggung jawab dari para buruh. Ah, udah mah jadi buruh, dipotong gajinya sama outsourcing (apalagi kalo dipotongnya 50 sampe 75 persen ya) hehehe bisa bangkrut tuh buruh diperes terus, ditelantarkan pula kalo udah tua tanpa dapet uang pesangon. Wah lengkap sudah deh penderitaan rakyat padahal kan katanya ekonomi kerakyatan tapi kok berpihaknya ke kapitalisme. Jadi ada yang salah tuh dengan sistem yang kita anut. Iya kan?>>BERLANJUT

>>>>untuk membaca kelanjutan artikel ini, silakan KLIK lINK berikut ini:
http://www.gaulislam.com/merdeka-yang-sesungguhnya

atau catatan Redaksi gaulislam di FB dengan LINK:
http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=138095010866


Salam,
Redaksi gaulislam
[http://gaulislam.com]

Fan Page: http://www.facebook.com/pages/gaulislam/103742043464

===
PROMO MENULIS: http://menuliskreatif.co.cc]
===

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.