Rabu, 16 September 2009

Ya Allah Pertemukan kami kembali dengan Ramadhan

Bro, nggak terasa ya Ramadhan udah di penghujung bulan. Dalam hitungan hari kita akan berpisah dengan Ramadhan. Bulan mulia yang penuh barokah dan ampunan. Saya sendiri sering merenung, apakah memang saya memanfaatkan Ramadhan dengan sebaiknya? Atau malah ‘memperlakukan’ Ramadhan seperti bulan biasanya? Shalat kita mungkin tak beda dengan saat shalat selain Ramadhan, shaum kita tak sempurna, shadaqah kita dihiasi dengan sikap riya’, dan amalan lainnya yang kita khawatir sia-sia belaka. Naudzubillah min dzalik. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah Swt. yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya. Memanfaatkan Ramadhan sebaik mungkin demi mengumpulkan pahala. Semoga.

Bro en Sis, kalo menjelang berakhirnya Ramadhan ini, saya jadi inget juga nih bait-bait puisi dari Pak Taufik Ismail, salah satu penyair favorit saya. Kebetulan saya pernah juga mengisi bareng beliau dalam satu acara di sebuah universitas di Malang tentang sastra. Tahu kan puisi beliau yang saya maksud? Yup, puisi itu berjudul “Setiap Habis Ramadhan”, yang makin keren ketika dilagukan oleh Bimbo. Syairnya begitu syarat makna dan mendalam. Inilah bait-bait puisi beliau: Setiap habis rama­dhan/ hamba rindu lagi ramadhan/ Saat-saat padat beribadah/ tak terhingga nilai mahalnya/ setiap habis ramadhan/ hamba cemas kalau tak sampai/ umur hamba di tahun depan/ berilah hamba kesempatan/ Setiap habis Ramadhan Rindu hamba tak pernah menghilang Mohon tambah umur setahun lagi Berilah hamba kesempatan/Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan/ Sekeluarga, sekampung, senegara Kaum muslimin dan muslimat se dunia/Seluruhnya kumpul di persatukan Dalam memohon ridho-Nya.

Sobat muda muslim, ya nggak terasa bulan Ramadhan udah berada di akhir perjalanannya. Padahal, kayaknya baru kemarin kita bergembira dengan datangnya Ramadhan. Padahal, rasanya baru kemarin kita mengawali indahnya sahur dan buka pertama dalam puasa kita. Padahal, rasanya baru kemarin pula kita sama-sama ikutan tarawih pertama berjamaah di masjid. Begitulah. Waktu memang berjalan tanpa kom­promi. Meninggalkan kita. Nggak peduli kita lagi ngapain. Mau yang sedang memanfaatkan­nya atau malah yang getol membuang percuma kesempatan. Semua ditinggalin tanpa ampun.

Kita pantas merenung. Di sepuluh hari terakhir yang tersisa di bulan Ramadhan ini, apa yang akan kita lakukan? Menghitung hari seperti kemarin dengan tanpa ada aktivitas amal sholeh? Atau sekadar mengisinya dengan hal-hal yang amat jauh dari nilai-nilai Islam? Rasanya, kita semua udah pada tahu, apa yang harus kita lakukan. Tapi celakanya, kita juga seringkali lalai dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Hati-hati yo…

Kita tahu bahwa puasa adalah wajib. Kita yakin (meski dengan keyakinan seadanya), bah­wa kalo nggak puasa kita akan berdosa. Namun, ternyata dalam praktiknya ada saja yang error. Selalu saja ada sebagian besar dari kita, yang ternyata masih melalaikan puasanya. Siang hari masih bebas makan dan minum. Emang sih, yang barangkali masih punya ‘setitik’ rasa malu tapi besar hawa nafsunya, ia akan makan dan minum di warung-warung yang tertutup kain. Kalo yang bebal mah, alias muke tebel, cuek aja ‘cacapluk’ di siang hari secara terang-terangan juga. Aduh, ini kok kayaknya nggak takut dosa gitu lho. Ckckck… gawat!

Bagi kita-kita yang mengawali dan mengisi Ramadhan ini dengan harapan ridho Allah, tentunya ingin selalu mendapat kesempatan emas dalam beribadah kepada Allah. Apalagi di bulan Ramadhan, di mana banyak kaum muslimin berlomba mengum­pulkan pahala untuk meraih derajat takwa. Nggak heran jika semua merasa Ramadhan adalah saat-saat padat beribadah. Rasulullah saw. jika Ramadhan tiba, beliau adalah orang yang paling dermawan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan. Kederma­wanannya meningkat pada bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau bertemu dengan malaikat Jibril. Disebutkan bahwa kedermawanan beliau melebihi kecepatan angin bertiup. Duh, betapa mulianya Ramadhan.

Senang, sedih, dan cemas jadi satu

Boys and girls, jika setiap habis Ramadhan, gimana sih perasaan hatimu? Senang, sedih, cemas? Kayaknya gampang-gampang susah menjawab pertanyaan model begini. Sebab memang sulit memisahkan pera­saan itu sendiri-sendiri. Maklum, ketika ber­akhirnya Ramadhan banyak perasaan yang muncul di hati kita. Bercampur jadi satu.

Perasaan senang muncul karena setidak­nya kita merasa berhasil telah lolos dari medan ujian yang berat sebagai pemenang. Benar-benar sangat berat. Sebab, selain harus mena­han diri dari rasa lapar yang mengiris-ngiris lambung kita, selain harus menahan haus yang terasa mengeringkan kerongkongan kita, juga kita dituntut oleh Allah Swt. untuk mengen­dalikan hawa nafsu kita. Tujuannya, agar puasa kita juga dibarengi dengan tambahan pahala yang lain dari Allah Swt.

Perasaan sedih juga muncul dari kita. Kenapa sedih dengan berakhirnya Ramadhan? Karena kita kehilangan kesempatan emas untuk menanam pahala di bulan tersebut. Sedih rasanya merasakan perpisahan dengan bulan yang telah dimuliakan Allah sebagai tempat untuk ‘menimbun’ pahala. Lebih sedih lagi kalo kita sampe tak mendapat apa-apa di bulan Ramadhan ini, kecuali rasa lapar dan haus. Atau lebih rugi lagi adalah nggak dapat apa-apa. Termasuk nggak dapat pahala puasa karena memang nggak puasa. Duh, rugi berat deh.

Rasa cemas juga kerap muncul dari kita. Khususnya bagi kita-kita yang memang telah mengisi Ramadhan tahun ini dengan segala aktivitas amal sholeh kita. Sehingga setiap habis Ramadhan, yang dirindukan adalah kembali bisa menikmati Ramadhan di tahun depan. Namun, ada kecemasan yang menggunung manakala menyadari dan khawatir jika usia kita nggak sampe di Ramadhan berikutnya. Harapan dan kecemasan bercampur jadi satu. Sampe kita sendiri nggak tahu, apa sebetulnya yang kita inginkan. Sebab, antara harapan dan kece­masan kelihatannya saling melengkapi. Setiap kali kita berharap, selalu saja ada kecemasan, meski sekecil apapun rasa cemas itu.

Perasaan-perasan tadi muncul secara wajar dalam diri kita. Alhamdulillah, moga kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Tapi jika sebaliknya, yakni kita tak pernah merasa senang, sedih, apalagi cemas dengan habisnya Ramadhan ini, wah, pantesnya kita mulai mengukur diri tuh. Sudah seberapa pan­tas menjadi seorang muslim. Dan itu berarti pula kita adalah termasuk manusia super cuek, nggak peduli dengan masa depan kita sendiri. Sungguh keras hati kita jika tak pernah ada ungkapan dari perasaan hati kita ini. Meski cuma diungkapkan setitik saja. Ah, rasanya kita pantas untuk ‘dimurkai’ Allah. Naudzubillahi min dzalik!

Padahal Bro, kita pantesnya malu sama Allah. Pantas ‘berhutang’ kepada Allah. Betapa banyak rizki dari Allah yang telah kita makan. Betapa bejibun nikmat Allah yang telah kita rasakan. Betapa tak ternilai harganya ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang muslim. Sebab, menjadi muslim, adalah petun­juk dari Allah. Itu adalah hidayah-Nya. Dan itu tak semudah membalikkan telapan tangan.

Barangkali kita nggak merasakan tan­tangannya ketika menjadi muslim. Sebagian besar dari kita menjadi muslim karena memang lahir dari keluarga muslim. Bayangkan jika kamu mendapatkan hidayah Allah ini berkat per­juangan yang melelahkan antara hidup dan mati.

Sa’ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat Rasulullah, begitu berat menghadapi kenyataan ketika beliau menjadi muslim. Sang ibu melakukan protes keras dengan mengancam akan melakukan mogok makan sampe tun­tutannya agar Sa’ad kembali ke agama nenek moyangnya dipenuhi Sa’ad. Tapi Sa’ad tak mudah untuk tergoda lagi. Berat bukan? Begitupun dengan Amr bin Yassir, yang harus rela melihat dengan mata-kepalanya sendiri orangtuanya menemui ajal di tangan orang-orang kafir Quraisy karena mempertahankan keyakinan mereka tentang Islam. Begitu pula, pernahkah kamu membayangkan bagaimana menderitanya Salman al-Farisi yang berusaha mencari kebenaran. Sempat pindah-pindah keyakinan sebelum akhirnya istiqomah dengan Islam. Saking istiqomahnya dengan Islam, beliau rela hidup menderita untuk membela Islam.

Wajar kan, jika nilai keimanan beliau-beliau boleh dibilang sangat mahal ketika ‘membelinya’. Amat beda dengan kita yang langsung instan. Karena memang lahir dan dididik di lingkungan keluarga muslim. Tapi walau bagaimanapun juga, ini merupakan hidayah dari Allah Swt. juga. Tinggal bagaimana kita mensyukuri­nya. Salah satunya adalah dengan taat terha­dap apa yang diturunkan Allah Swt. kepada kita. Wajib tunduk dan patuh terhadap perintahNya.

UNTUK MEMBACA LEBIH LENGKAP ARTIKEL INI, SILAKAN KLIK LINK BERIKUT INI:

http://www.gaulislam.com/berharap-bertemu-ramadhan-kembali

ATAU di NOTE Redaksi gaulislam di FB:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=155028040866&ref=mf

Semoga bermanfaat.

Salam,
Redaksi gaulislam
[http://gaulislam.com]

=====
[PROMO KURSUS MENULIS: http://menuliskreatif.co.cc]
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.