Minggu, 31 Januari 2010

Muslimah Di Tengah Kerusakan Moral

Sebut saja Bunga (bukan nama aslinya) siswa kelas dua SLTP di sebuah kota besar ini hampir setiap pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ia ganti baju seragamnya dengan pakaian yang telah ia persiapkan sebelumnya lalu nongkrong di sebuah Mall bersama ketiga orang kawannya. Berjam-jam mereka habiskan waktu sambil minum jus di sebuah cafe sampai suatu saat handphone-nya berdering.
“Gimana?” ucap Bunga sedikit merayu, “Boleh tapi harganya biasa ya? Oya, tempatnya di hotel sebelah mall aja, biar mudah.” kata laki-laki yang akan mengencaninya. Lalu Bunga-pun pergi mendahului teman-temannya sambil mengatakan, “Aku duluan, dapat order nih..!”.

Lain halnya dengan Mawar (bukan nama sebenarnya) yang juga merupakan teman sekelas Bunga dan memiliki hobby yang sama. Ia tidak suka diberi uang setelah melakukan hubungan layaknya suami istri itu. Malahan tak jarang Mawar justru yang marah, “Kamu pikir saya PSK, saya kan hanya ingin menikmati saja.” Anggapnya, jika diberi uang tak ada bedanya dia dengan PSK. Jikalau mau Mawar hanya ingin dibelikan baju, sepatu, tas atau hanya sekedar minta traktir makan dan minum saja di sebuah restoran.
Yang menyedihkan, tidak sedikit remaja kita yang seperti mereka. Paling tidak hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), yang juga dikutip Media Indonesia, menyatakan bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan intim dengan pacar mereka. Tak jarang dari mereka mengaku merasa ketagihan untuk melakukannya lagi. Tayangan televisi, media-media berbau porno semakin mendekatkan para remaja itu melakukan hubungan intim di luar nikah.
Memprihatinkannya, setidaknya dalam setahun terakhir ini 2000 video porno di internet ”dibintangi” pelajar Indonesia. Dan yang juga lebih membuat kita sedih adalah adalah ternyata pelaku sekaligus korban ini bukan saja dari kota-kota besar tapi juga telah merambah kota-kota kecil. Misalnya Nganjuk, Jombang, Pacitan, Gowa, Minahasa dan Lampung.
Hal ini mengakibatkan suburnya praktek aborsi. Pada 2008, Voice of Human Rights melansir praktek aborsi di Indonesia menembus angka 2,5 juta kasus; 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja di bawah usia 20 tahun. Lebih lanjut, berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia(YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia per Maret 2009 mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 21-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.
Mengenaskan, karena mereka adalah generasi masa depan, bahkan sebagian dari mereka adalah calon pencetak generasi masa depan (calon ibu). Astaghfirullah…
Penyebab Maraknya
Setidaknya ada 3 hal yang membuat bencana moral ini merebak menjadi makin tak terkendali, yaitu:
1. Lemahnya Kontrol Diri. Kontrol diri seorang muslim adalah ihsan (merasakan Pengawasan Alloh). Karenanya ia selalu berkata dan berbuat seiring dan sejalan dengan segala perintah dan larangan-Nya. Baginya di seluruh penjuru bumi tak ada daerah yang bebas dari hukum Alloh. Tak ada satu aspek kehidupan pun yang tak terikat dengan hukum syara’, tak ada tempat baginya untuk melanggar hukum Alloh. Sayangnya kontrol diri ini menjadi barang yang langka.
2. Lemahnya kontrol masyarakat. Apa yang akan kita lakukan bila melihat pasangan yang sedang ‘asyik’ di taman bermain atau taman masjid? Seringkali kita hanya beristighfar dan bergegas meninggalkan mereka. Jarang diantara kita yang mendatangi, mengajak mereka bicara dan menegur mereka. Kontrol yang lemah ini seakan menjadi ‘restu’ atas perilaku bebas.
3. Pengaturan yang jauh dari Islam. Pengaturan dalam masyarakat tentu akan mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat. Saat ini kehidupan yang individualis, hedonis (mendewakan kesenangan dunia) dan permissive (serba boleh) begitu lekatnya dengan kita. Jelas semua itu bertentangan dengan Islam.
Nabi saw pernah bersabda, ”Perumpamaan orang yang menetapi hukum-hukum Alloh dan menjaganya adalah laksana suatu kaum yang menumpang kapal, sebagian orang menempati bagian atas dan sebagiannya lagi menempati bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah, jika hendak mengambil air, akan melewati orang-orang di bagian atas. Diantara mereka kemudian ada yang berkata,”Seandainya saja kami melubangi kapal ini di bagian kami, tentu kami tidak akan merepotkan orang-orang di bagian atas.”Jika orang-orang di bagian atas membiarkan tindakan itu, niscaya semua orang yang ada di kapal akan tenggelam. Sebaliknya, jika mereka berusaha mencegahnya, mereka semuanya akan selamat.” (THR al-Bukhari).
Yang Harus Dilakukan
Melindungi diri dan keluarga dari bencana moral ini sulit dilakukan tanpa upaya menghindarkan masyarakat sekitar kita dari kemaksiyatan. Bukankah keluarga kita merupakan bagian dari masyarakat. Tak dapat dibayangkan betapa hancurnya hati kita sebagai seorang ibu, kala anak yang kita lahirkan dan didik dengan hati-hati secara Islami menjadi rusak akibat pengaruh pergaulan dengan teman-temannya. Padahal melarang anak bergaul dengan teman-teman di sekitarnya juga tak baik bagi tumbuh kembangnya. Karenanya kepedulian terhadap masyarakat sekitar kita sangatlah penting. Alloh SWT Berfirman dalam QS. Al-Anfal : 25, yang artinya : ”Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya”
Beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menumbuh-suburkan kepedulian, diantaranya :
1. Ngaji rutin intensif. Dari kajian rutin, kita akan memperoleh banyak hal, baik tsaqafah, dorongan untuk amal dan teman-teman yang sholih. Semua itu akan memperkokoh kepribadian kita.
2. Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif di tengah masyarakat, seperti takziyah, kerja-bakti, dsb.
3. Menyelenggarakan kajian keislaman di lingkungan kita.
Semuanya ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi ingatlah janji Alloh: Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad : 7) Dengan ber-amar makruf nahi munkar, insya Alloh putra-putri kita akan terjaga. Karena pertolongan-Nya. di kutip dari nurulhayat.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.