Selasa, 12 Januari 2010

Warga Palestina Putus Asa Terpaksa Bekerja di Permukiman Israel

Tepi Barat (voa-islam.com): Ismail Harb, seperti kebanyakan warga Palestina lainnya ia membenci pemukiman ilegal Israel yang berada puncak bukit Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel. Namun begitum ia tetap harus bangun pagi setiap hari sebelum fajar untuk membantu membangun pemukiman ilegal mereka.
"Bukan hanya uang yang kami dapat dalam proyek-proyek konstruksi Israel, tetapi juga bahwa kami bekerja tanpa pernah berhenti di pemukiman", kata pria 36 tahun itu saat ia menuggu dengan ratusan orang lain dalam kegelapan yang dingin sebelum matahari terbit.
"Saya pikir sebagian besar pekerja disini tahu mereka sedang dihina, tetapi tidak ada alternatif lain", kata Raid al-Rabi 26 tahun

Para pekerja berkumpul di luar sebuah pos pemeriksaan militer mulai pukul 3 pagi untuk memasuki Israel atau salah satu dari empat pemukiman Yahudi ilegal terdekat diwilayah pendudukan.

Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas menyebut bahwa pemukiman ilegal adalah rintangan terbesar untuk perdamaian dan ia menolak memulai kembali perundingan dengan Israel jika pembangunan masih berjalan.
Tetapi, ribuan buruh Palestina yang menderita dibawah pendudukan Israel tidak memiliki pilihan lain kecuali dalam pemukiman tersebut untuk bertahan hidup.

"Jika kami bisa menemukan jenis pekerjaan lain di toko-toko Palestina maka kami tidak akan datang kesini setiap hari dan menghadapi penghinaan ini, bahkan penghinaan ini dimulai sebelum kami bekerja", kata Ismail Harb, mengacu pada lamanya menunggu di pos pemeriksaan.

"Saya sepenuhnya setuju dengan permintaan Otoritas Palestina untuk menghentikan pemukiman, tetapi adakah alternatif lain yang bisa memberi kita kehidupan yang layak", ia bertanya.

Mereka berdiri dalam antrean saat matahari terbit diatas blok apartemen putih di pemukiman ilegal Modiin IIit sisi lain. Seorang tentara Israel berteriak pada orang-orang dalam bahasa Ibrani, mengatakan bahwa tidak seorangpun yang datang setelah jam 6:30 akan diizinkan masuk.

"Saya pikir sebagian besar pekerja disini tahu mereka sedang dihina, tetapi tidak ada alternatif lain", kata Raid al-Rabi 26 tahun, ia bekerja sebagai tukang kayu di dekat pemukiman Hashmonim.

"Orang-orang mengecam orang Palestina yang bekerja pada tembok pemisah, tapi mereka tidak mengatakan kepada para pekerja itu alternatif pekerjaan lain", ia menambahkan, merujuk pada tembok penghalang di Tepi Barat yang dibangun Israel, para kritikus menyebutnya sebagai "tembok apartheid".

Semua pemukiman Yahudi adalah ilegal dibawah hukum internasional, karena dibangun di atas tanah Arab (terutama Palestina), yang secara ilegal diduduki Israel sejak tahun 1967.

Hampir setengah juta pemukim Israel tinggal secara ilegal dilebih dari 100 pemukiman yang tersebar di seluruh Palestina yang diduduki Israel, Tepi Barat, termasuk menganeksasi Palestina di Yerusalem Timur.

Jumlah pemukiman ini sudah bertambah dua kali lipat sejak awal tahun 1993 saat proses perdamain Oslo, dan Palestina takut ekspansi akan menjadikanya tidak mungkin untuk mendirikan negara merdeka yang layak.

Sebelum pecah Intifhadah tahun 2000 di Al Aqsa, sekitar 146.000 orang Palestina telah bekerja didalam pemukiman Israel, menurut Data Moneter Internasional.

Sekarang, hanya sekitar 45.000 orang Palestina yang memiliki ijin kerja, menurut militer Israel.

Orang-orang Palestina ini harus membayar 75 dolar (50 euro) perbulan untuk izin bekerja di pemukiman, tapi mereka masih harus membayar lagi disetiap pos pemeriksaan kepada tentara Israel, dengan alasan "keamanan". Mereka hanya mendapatkan bayaran 50-75 dolar (35-50 euro) perhari dari pemukiman Israel.

Menteri tenaga kerja Palestina Ahmad mengatakan Majdalani Authority menyadari masalah ini dan menyalahkan penutupan Israel atas kurangnya kesempatan kerja.

"Situasi memaksa saya untuk melakukan pekerjaan pahit ini", kata Sharif Sanina, 43 tahun ayah dari delapan anak, ia menunggu sambil berbaris dijalanan. "Saya ingin memberikan sesuatu untuk keluarga saya, dan saya akan melakukan dengan cara apapun yang saya bisa".

[voa-islam/meo]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.