Rabu, 10 Februari 2010

Kisah Sukses cak Man (owner Bakso kota)


Bulan lalu tepatnya tanggal 22 Januari 2010 siswa SMA Ar Rohmah hususnya yang kelas X dan XI, mendapat kehormatan untuk berkunjung dan belajar wirausaha kepada salah seorang pengusaha bakso, beliau adalah cak Man yang terkenal lewat bakso kotanya nah berikut ini kisah sukses beliau yang dikutip dari harian Jawa pos edisi 24 Juni 2009 yang berjudul The Great Man. simak kisahnya agar bisa menhjadi inspirasi para pengunjung blog :
The Great Man "Cak Man" Miliader Bakso Malang
Bakso bagi sebagian orang hanya kudapan di waktu senggang. Namun, di tangan Abdur Rachman Tukiman alias Cak Man, anggapan itu menjadi usang. Lewat bendera "Bakso Kota", pengusaha tidak tamat SD dari lereng Gunung Wilis, Trenggalek, itu kini memayungi usaha 86 gerai bakso di seluruh Indonesia dengan omzet total setengah miliar rupiah per hari.


Deretan mobil berjajar di halaman menyambut Jawa Pos saat mendatangi rumah Abdur Rachman Tukiman alias Cak Man di Jalan Bantaran II no 11 Kota Malang. Mata pencaharian tuan rumah sebagai juragan bakso langsung terlihat dari adanya tiga gerobak bakso di sisi rumah. Di samping rumah berlantai dua itu terdapat bangunan untuk asrama pegawai.''Saya jarang di rumah, lebih banyak di kantor atau berkiling menengok gerai,'' ujar Cak Man mengawali wawancara pekan lalu. Deretan mobil dan rumah sederhana itu hanya sebagain dari aset pria kelahiran Trenggalek 48 tahun lalu itu

Melalui PT Kota Jaya yang didirikan pada Februari 2007, Cak Man kini menjadi juragan waralaba bakso terbesar di Indonesia dengan brand "Bakso Kota Cak Man". Perusahaan bapak tiga anak ini sekarang membawahi 86 cabang gerai Bakso Kota di seluruh Indonesia. Omzet masing-masing gerai berkisar Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per hari, atau sekitar Rp 500 juta per hari untuk semua outlet.

Dari total penjualan kotor per bulan, lima persennya masuk ke kantong Cak Man sebagai royalti frenchise. Jadi hanya dengan ongkang-ongkang kaki, Cak Man bisa mengantongi pendapatan Rp 100 juta per bulan. Penghasilan sekelas dirut BUMN itu ternyata belum termasuk keuntungan dari enam outlet yang dikelola sendiri oleh Cak Man di Kota Malang.

Kantong Cak Man semakin menggelembung jika ada investor yang ingin membeli frenchise Bakso Kota yang dilego Rp 50 juta untuk periode lima tahun masa kerjasama. ''Jumlah itu dipecah, Rp 20 juta untuk membiayai sekolah koki di tempat saya sisanya masuk ke perusahaan, murah kan,'' jelas anak ke lima dari delapan bersaudara itu.

Tak heran Cak Man yang tak sempat tamat SD dan mengawali karirnya menjadi tukang bakso pikul itu, kini tinggal menikmati hasil keringatnya.''Oalah mas, semua ini karena saya senang nabung,'' ujar pria yang sering ketinggalan pesawat karena sering diminta orang bercerita orang tentang sukses usaha baksonya di bandara itu. Namun tak semua jalan usaha Cak Man bertabur cerita sukses. Pada akhir 2002, di Malang sempat berhembus gosip jika bakso Cak Man dibuat dari daging tikus. Rumor tak jelas sumbernya itu sempat membuat anjlok omzet sampai 50 persen. ''Gerai di Jalan Surabaya saya tutup karena sewanya habis, bukan karena penggerebekan polisi akibat isu campuran daging tikus di bakso,'' kenangnya.

Setelah isu bakso tikus mereda, pada 2004 sebagian orang kembali menghembuskan kabar jika baksonya mengandung borax atau bahan yang digunakan untuk mengawetkan mayat. Pada saat itu, Cak Man akhirnya sadar, bahwa kabar tak sedap tentang baksonya harus dilawan.

Cak Man pun akhirnya membuka lebar-lebar dapurnya untuk bisa dikunjungi siapa saja. Kini, mulai dari mahasiswa, pelajar sekolah kejuruan jurusan tata boga, atau masyarakat umum bisa masuk dengan bebas ke dapurnya di Jalan Bantaran II No. 11, Malang. ''Banyak yang menjadikan lokasi ini sebagai bahan skripsi, tugas akhir, tempat magang, atau penulisan buku,'' imbuh Cak Man yang berasal dari Trenggalek itu. Beberapa acara kuliner TV nasional juga kerap menyatroninya. Meliput proses pembelian daging sampai terhidang di mangkuk dalam bentuk bakso.

Saat Jawa Pos menyambangi salah satu gerai Cak Man di Jl WR Supratman Malang juga tengah digelar pertemuan sebagai persiapan 80 siswa-siswi dari salah satu sekolah kejuruan di Sidoarjo yang akan magang di cabang-cabang Bakso Kota Cak Man.

Cara "open house" ini terbukti manjur, Bahkan saat muncul isu lagi yakni bakso Cak Man adalah Bakso Katok (bakso yang dicelupi celana dalam untuk penglaris, Red) sudah tak dipercaya masyarakat lagi. (luq/kim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.