Selasa, 01 April 2014

Buletin Edisi Jum’at, 4 April 2014 (Mush'ab Bin Umair)

MUSH’AB BIN UMAIR

Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para sahabat Nabi. Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: 

“Seorang Warga kota Mekah yang Mempunyai nama paling harum”.

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Dia serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat- tempat pertemuan.

Awal mula masuk Islam
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad al-Amin yang mengatakan telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, dan mengajak ummat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. Yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah biasa mengadakan pertemuan di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.Keraguannya tiada berjalan lama,hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja di dorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam.

Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar yang tepat mengenai sasaran pada kalbunya.

    Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan Tangannya dan mengurut pemuda itu, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai,bagai lautan yang teduh  Dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas -berlipat ganda dari ukuran usianya- dan mempunyai kemantapan hati yang mampu merubah jalan sejarah.

·         Tantangan  dari Ibunya
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush’ab, yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mush’ab menganut islam, tiada yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri,walaupun seluruh penduduk Mekah akan menyerangnya tentulah ia anggap kecil. Tapi tantangan dari ibunya bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil.

Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya. Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana, mengintai bagai elang.Hingga pada suatu hari Usman binti Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihat pula ia shalat seperti Nabi Muhammad saw. Secepat kilat Ibu Mush’ab mendapatkan laporannya yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan Ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat ayat al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka.

Ketika sang Ibu hendak menamparnya untuk membungkam mulutnya, tiba-tiba tangannya jatuh terkulai karena rasa ibanya kepada anak.

Karena rasa keibuannya kepada anak. Ibunda Mush’ab tidak jadi memukul dan menyakiti puteranya. Tetapi dikurung dan dipenjarakannya amat rapat diSuatu tempat terpencil di rumahnya.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya. Kemudian ia pergi ke Habsyi untuk melindungi diri.

Ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat kian meningkat. Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberpa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullahsaw. Demi memandang Mush’ab, mereka menundukkan kepala dan beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memaki jubah usang yang bertambal-tambal, padahal seingat mereka -sebelum masuk islam- pakaiannya bagai kembang di taman. Wangi sekali.Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkannya, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu pulang dari Hijrah.Mendengar itu, Mush’ab pun bertekad untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya jika rencana itu dilakukan. Karena sang ibu tahu kebulatan tekad anaknya, maka tak ada jalan lain, kecuali melepasnya dengan cucuran air mata. Begitu juga dengan Mush’ab.
Ketika Sang ibu mengusirnya dari rumah dengan berkata: “Pegilah sesuka hatimu!, Aku bukan ibumu lagi”.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.