Minggu, 01 Mei 2016

Budaya Ngaret di Indonesia maupun di Ar-Rohmah Sendiri


[OPH WEB] Ngaret adalah istilah untuk ketidaktepatan waktu, atau bisa dikatakan terlambat karena mengulur-ulur waktu atau malas. Kebiasaan terlambat memang bukan hal yang aneh lagi di lingkungan kita dan biasanya kita sangat akrab dengan istilah “jam karet”. Jam karet adalah istilah yang merujuk kepada konsep “elastisitas waktu” (biar keren kayak ilmuwan fisika atau ekonomi gimana gitu), namun bukan konsep elastisitas di pelajaran Pak Jayekoman itu. Dimana elastisitas harga dan barang dipengaruhi oleh... Yah, pelajaran ekonominya siakan tanya sendiri kepada orangnya. Hehehe... “Elastisitas” yang dimaksud ini adalah konsep dimana sebuah waktu yang telah ditentukan bukan merupakan suatu yang pasti melainkan suatu yang dapat diundur (dianalogikan dengan direnggangkan atau diulur seperti karet). Istilah jam keret pun seakan sudah menjadi suatu budaya tersendiri di Indonesia, tidak terkecuali kampus kita ini.

Dan bagaikan pemicu, budaya “elastisitas” ini tentu saja akan memicu berbagai pelanggaran lain, yang pastinya mau tidak mau dan sadar tidak sadar kita dan Admin lakukan. Mulai dari keterlambatan itu sendiri, seragam yang tidak lengkap, dan pelanggaran-pelanggaran kecil lainnya. Pelanggaran ini sendiri sebenarnya wajar-wajar saja untuk seusia kita, menurut Admin sendiri. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa sejatinya setiap orang pasti pernah terlambat dengan berbagai macam alasan, namun kalau sudah kebanyakan pelanggaran kayaknya sudah tidak normal juga rasanya. Banyak cara yang digunakan untuk menutupi kesalahan-kesalahan tersebut diantaranya yaitu alasan bangun kesiangan, terlambat mandi, dan seribu satu alasan lagi. Dan inti dari melanggar sebenarnya adalah bagaimana kita bisa melanggar tanpa bisa ketahuan, bukan?

Menurut Waka Kesiswaan SMA Ar-Rohmah, Ustadz Mawardi, masalah “elastisitas waktu” sudah kian menjadi di kampus kita ini. “Awalnya hanya telat sedikit, lalu karena kurangnya tindakan, akhirnya jadi telat banyak. Tentu saja itu akan memicu pelanggaran lainnya. Karena perasaan kalau melanggar itu tidak apa-apa itu akan tumbuh membuat kita semakin meremehkan pelanggaran. Pelanggaran besar terasa seperti sedang, pelanggaran sedang terasa seperti kecil, dan pelanggaran kecil terasa seperti tidak ada masalah.”

Kali ini, kru [OPH WEB] akan mewawancarai waka kurikulum yang sekaligus mengajar Bahasa Arab mengenai fenomena sosial fisika ekonomi ini (sosial karena melibatkan banyak orang, fisika karena melibatkan salah satu besaran pokok, yaitu waktu, dan ekonomi karena melibatkan kata “elastisitas”. Oke ini memang sedikit ngawur.) dan juga anak turunan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Let’s cekidot niii...

Sejak kapan budaya ngaret ini ada di SMA Ar-Rohmah?

Ngaret sejak dulu sudah ada, persentasenya naik turun. Biasanya, ngaret itu paling sering habis libur, saat ujian, dan saat fakultatif. Ini mungkin karena dikarenakan kurang sigapnya dan kurangnya kerjasama antarapihak sekolah (dalam hal ini guru) dan juga pihak asrama (dalam hal ini kepengasuhan).

Apakah kurangnya kerjasama ini dikarenakan kurangnya komunikasi?

Sudah sering sekali diingatkan lewat Whats App (WA) kepada teman-teman guru dan pengasuh mengenai seragam para siswa, mengenai penyegeraan mengunci kamar asrama, dan lain-lain. Semua hal ini membutuhkan kerja sama yang solid untuk supaya bisa meminimalisir semua pelanggaran, baik pelanggaran formal maupun non formal.

Bagaimana kalau masalah seragam? Contohnya, kalau seragamnya nggak bersih atau semacamnya?

Kalau masalah seperti itu sih, silakan dikonsultasikan ke pihak Laundry. Atau konsutasikan saja sama saya (Pak Mawardi), ada masalah apa. Insya Allah saya bisa bantu.

Kalau dari segi hukuman gimana? Mungkin saja mereka tidak sadar-sadar karena hukumannya kurang, bukan?

Kalau masalah hukuman saya rasa sudah terlalu banyak variasinya. Saya rasa juga sudah cukup menimbulkan efek jera. Mulai dari hukuman fisik seperti push up, menulis Al-Qur’an mulai dari 1 surah sampai 1 juz, sampai dijemur sampai jam 10, tapi tetap saja kurang. Yang menjadi masalah ini adalah sistem kontrol yang selalu tidak konsisten dan ketegasan yang kurang.

Apakah ada beban moral bagi guru-guru untuk mengikuti peraturan sekolah?

Tentu saja, ada. Untuk masalah waktu, itu mungkin masih bisa dimaklumi karena beberapa dari kita, para guru, memiliki keluarga yang harus diurus dan hal-hal lain.  Tapi hal yang paling menjadi beban moral adalah pertanyaan “Mengapa guru dan siswa dibedakan? Seharusnya peraturan sekolah tidak hanya mengikat murid, namun juga guru.” Salah satu masalah paling klasiknya adalah pemakaian sandal. Guru diperbolehkan memakai sandal, sedangkan murid tidak boleh. Perbedaan guru dan murid itulah yang menjadi beban kami dalam menjalankan peraturan sekolah. Pelarangan santri sudah bertahap, namun karena hal-hal tadi makanya santri mungkin saja tidak mendengarkan.

Bagaimana data statistik mengenai pelanggaran? Boleh kami melihatnya?

Data statistik pelanggaran sayangnya termasuk informasi yang tidak bisa sembarang diberitahukan. Tapi pokoknya ada dan teratur, khusunya pelanggaran yang sudah dicacat oleh teman-teman OPH.

Ada tips-tips gimana supaya bisa mengurangi telat?

Sebenarnya tipsnya sudah sering saya berikan kepada kalian. Bisa mengatur diri dan waktu. Mengatur diri disini maksudnya bisa memosisikan diri pada posisi yang tepat. Tidak termakan oleh hawa nafsu kemalasan. Kalau ada anak yang bisa, kok yang lainnya gak bisa? Mengatur waktu maksudnya bisa menggunakan waktu sebaik dan seefisien mungkin. Ketidakmampuan kita mengatur kedua hal ini, biasa kita lihat pada fakultatif. Biasanya, fakultatif itu selalu memakan waktu yang berlebihan dan akhirnya membuat siswa, entah karena kelelahan ataupun malas, tidak pergi atau masbuk sholat dhuhur dan ashar. Hal inilah yang ditakutkan oleh kepala sekolah. Seandainya kita bisa mengatur diri dan waktu kita, kepala sekolah pastinya bisa dengan mudah mengizinkan masalah fakultatif dan semacamnya.

Apakah bapak masih optimis kalau kita masih bisa membenahi diri lebih baik lagi?

Tentu saja, ya. Sebab kalau kita malah pesimis, maka kita tidak akan bisa bergerak. Kita harus yakin 100% bahwa kita bisa melakukannya. Intinya adalah kita harus terus berjuang untuk membenahi diri, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri.

Terakhir, pak. Ada pesan-pesan untuk kita para siswa, pak?

Bersyukur adalah hal yang harus dilakukan para siswa, khususnya siswa SMA, karena sudah diberikan banyak keleluasaan. Allah menertibkan manusia dengan cara membuat mereka dapat memilih apakah mau masuk surga atau mau masuk neraka. Mari kita mensyukuri nikmat Allah dengan cara membenahi diri agar bisa pantas untuk memasuki surgaNya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.