Senin, 21 November 2016

Niat Selalu Kalahkan Segalanya



           
        Ini adalah secarik cerita menginspirasi bagi seluruh umat, umat islam khususnya. Bapak Abdul Manan, atau yang biasa dipanggil Pak Manan. Beliau pertama kali melihat dunia pada tanggal 4 Juli 1946 di Gunung Sari, Batu. Perjalanan hidup yang sangat mengesankan. Manan kecil pernah mengenyam pendidikan SR (sekolah rakyat) atau yang sekarang disebut SD dan lulus pada
Tahun 1959 dan SMP 1962. Awalnya beliau telah berhenti sekolah karena krisis ekonomi keluarga, beliau “ngenger” dalam bahasa jawa yang artinya menumpang di suatu tempat namun tetap melalukan pekerjaan sukarela di masjid Khadijah yang bertempat di daerah Arjuno beliau juga ikut membantu merawat masjid hingga pada suatu saat belia bertemu dengan seseorang yang bernama Pak Ibnu Samun. Beliau adalah bapak dari kepala PDAM saat ini di Kabupaten Dau, Batu. Dan Bapak Ibnu Samun lah yang telah berjasa dalam hidup Pak Manan, Bapak Samun juga lah yang menyarankan Manan kecil untuk melanjutkan sekolah ke jenjang PGA ( Pendidikan Guru Agama ) dan akhirnya Manan kecil melanjutkan pendidikannya hingga lulus pada Tahun 1965.

            Setelah lama diwawancarai, sang nyonya ibu Ningsih mengatakan bahwa Pak Manan adalah salah satu pejuang Ar-Rohmah dan kami tertarik untuk bertanya sedikit tentang awal mula Ar-Rohmah terbangun. Menurut penjelasan Pak Manan, dahulu Ar-Rohamah adalah sebuah panti asuhan yang tidak terlalu terkenal dan hanya memiliki sedikit anak asuh. Semua anak asuhan tersebut bersekolah ditempat Pak Manan mengajar di SMP 2 Muhammadiyah. Hingga pada akhirnya Pak Manan ikut membantu untuk membentuk sebuah Pondok Pesantren. Dan akhirnya berdirilah LPI  Ar-Rohmah hingga saat ini. Pak Manan turut mengapresiasi dengan perkembangan yang sangat pesat dari segi pendidikan di Ar-Rohmah.

            Awal mula beliau sakit yaitu karena kecelakaan 2 tahun yang lalu. Jadi menurut pengakuan beliau setiap bulan Ramadhan, beliau melakukan Safari Ramadhan ke setiap cabang muhammadiyah di kota Malang. Pada hari ke-10 bulan Ramadhan tahun 2014, seperti biasa beliau melakukan Safari Ramadhan ke seluruh Cabang Muhammadiyah. Dan saat beliau hendak mencari makanan untuk sahur beliau mengendarai sepeda motor seorang diri, singkat cerita. Seusai makan sahur beliau melanjutkan perjalanan menuju kediamannya di Dau. Secara tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri saat mengendarai sepada motor hingga akhirnya beliau menabrak sebuah mobil di daerah Pakis, Malang. Saat itu beliau masih bisa mendengar nafasnya yang terasa sangat sesak di dadanya. Dan beliau dibantu oleh sang pemilik mobil untuk pergi menuju Puskesmas Pakis, ketika sang ketua pimpinan muhammdiyah daerah ini sadar dari pingsannya beliau ditanya oleh salah seorang yang menolong beliau “siapa yang bisa dihubungi?” dan beliau menjawab “Pak Mursidi” orang yang disebutkan beliau juga teman dekat dari Pak Manan. Sesampainya Pak Mursidi di Puskesmas Pakis dan melihat kondisi Pak Manan yang saat itu terbaring tak berdaya di atas kasur dengan luka yang terbilang parah dibagian lutut kanan, Pak Mursidi mengusulkan untuk membawa Pimpinan Daersh tersebut ke Rumah Sakit Muhammadiyah Tlogomas. Dalam kejadian itu beliau mengaku bahwa banyak sekali hikmah didalamnya dan pada akhirnya beliau menjalani pemulihan selama 1 setengah tahun dan disusul oleh penyakit Bell’s palsy yang menyerangnya, penyembuhan masih dilakukan hingga saat ini.

            Beliau juga menceritakan tentang perjuangannya menuju medan Jihad di Jakarta pada Tanggal 04 November 2016 dengan berpegang teguh pada kitab Suci Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 38-41 yang menjelaskan tentang          “jihad” ini salah satu kitipan ayat tersebut “berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Dan demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Selain itu beliau juga berpegang teguh pada Hadits Rasul SAW. Dengan ketakutannya akan orang cina yang menguasai Negara ini, dan dengan niat dalam hati yang sangat luar biasa beliau berangkat menuju medan Jihad yang sesungguhnya mengendarai sepeda motor Grand yang terbilang cukup tua. Tidak peduli apapun yang akan terjadi, beliau percaya bahwa Allah akan selalu menjaganya dalam perjalanan menuju Jakarta.

            Walaupun Pak Manan percaya bahwa akan dilindungi oleh-Nya namun perjalanan beliau masih mendapatkan cobaan. Ketika beliau melintasi kota Caruban beliau mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan kaki kanan bekas lukanya memar dan terasa sakit untuk yang ke-2 kalinya setelah kecelakaan 2 tahun lalu. Layaknya firman Allah dalam surat Al-Insyiroh ayat 5 yang artinya “maka sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan” dan tidak memungkiri dari ayat tersebut, ketika Pak Manan sampai di Kota Bekasi lebih tepatnya di Pondok Gede beliau bertemu dengan seorang pemuda dan ibunya yang hendak mengantarkan beliau ke rumah anaknya yang bertempat tinggal di Balai Kambang. Dan dikediaman rumah anaknya Pak Manan istirahat hingga matahari menampakkan sinarnya, Pak Manan diantar oleh anaknya untuk menuju masjid Istiqlal. Singkat cerita para mujahid pejuang Islam ini berkumpul di Landmark Jakarta yaitu Monumen Nasional namun petinggi Negara tidak ada yang merespon berkenaan dengan unjuk rasa yang dilaksanakan tersebut. Kemudian mereka melanjutkan usahanya menuju Gedung DPR Jakarta dalam setengah perjalanan menuju Gedung DPR beliau lagi-lagi mendapat petolongan-Nya dengan bantuan seorang wanita yang berprofesi sebagai tenaga medis. Sesampainya di Gedung DPR seraya menunggu keputusan dari pihak yang berwajib Pak Manan duduk di pinggir trotoar bersama seorang pemuda yang belum pernah dikenal sebelumnya dan bercerita bahwa pemuda tersebut memiliki dosen yang nekat dari Malang ke Jakarta mengandarai sepeda motor. Dan akhirnya Pak Manan Mengakui bahwa yang diceritakan oleh pemuda tersebut adalah dirinya, terkejutlah pemuda tersebut dan mengirimkan foto mereka kepada murid dari Pak Manan yang berada di Malang, hal yang tidak pernah dibayangkan berikutnya adalah beliau bertemu dengan Ust. Khalid Basalamah dan mendapat hadiah yang luar biasa dari Ust. Khalid Basalamah. Dan sungguh bantuan dari Allah tidak pernah ada putusnya ketika hambanya mengejar akhirat maka dia akan mendapatkan dunia pula.

“Perjuangan cirinya ada pengorbanan”
-----Pak Manan-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari jalin silaturahim dengan
Berikan komentar anda untuk kemajuan Blog ini.